IKHLAS DARI HATI, SETIAP HARI DAN SAMPAI MATI
Di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan. Ibadah bukan jaminan bagi seseorang untuk masuk surga atau neraka, akan tetapi ibadah dilakukan untuk mengetuk pintu Rahmat-Nya. Ibadah tidak selalu tentang sholat, zakat, mengaji, belajar dan puasa. Akan tetapi diam juga ibadah, mengusap kepala anak yatim juga ibadah, dan tidak mengganggu orang yang tidak sholat juga ibadah. Salah satu kunci untuk diterimanya ibadah adalah Ikhlas. Ikhlas berasal dari kata Khalasha yang artinya murni dan berkembang menjadi Ikhlas yang artinya memurnikan sesuatu. Apa yang dimurnikan? Memurnikan hati kita agar beribadah hanya kepada Allah ﷻ semata.
Allah ﷻ berfirman di dalam Surah Al-Bayyinah [98]:5 bahwa Allah ﷻ memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya dalam keadaan ikhlas, yakni karena-Nya dan untuk-Nya. Sewaktu masih mondok di As’adiyah, guru saya pernah bilang bahwa, “Idi’ atanna ki fuangallahu ta’ala tennya ki atanna waramparang’e” yang artinya kita adalah hamba Allah ﷻ bukan hambanya harta. Ucapan beliau sangat relate dengan kebanyakan manusia di zaman sekarang yang dimana kebanyakan dari mereka merayu Tuhan ketika ada maunya saja. Dan juga untuk apa kita beribadah selain kepada Allah ﷻ? Misalnya harta, jabatan, ketenaran, atau apa pun itu, sedangkan semua itu bisa kita dapatkan apabila memang sudah menjadi takdir kita. Bahkan kalau kita fokus beribadah maka Tuhan pasti akan memberi walau tanpa diminta dan rezeki yang tak terduga itu selalu lebih besar daripada yang ada di benak kita.
Ikhlas tidak bisa dipaksakan karena ikhlas adalah perbuatan hati. Untuk bisa menjadi mukhlisin atau orang yang ikhlas perlu membersihkan hati dari perbuatan buruk. Dikatakan dalam kitab Mau’idzatul Mu’minin bahwa perbuatan buruk bagaikan titik hitam yang kecil didalam hati, semakin banyak titik kecil itu, maka akan menutup seluruh hati sehingga tidak bisa dibersihkan kecuali dengan taubatannasuha atau tobat yang sebenar-benarnya. Mengapa ikhlas harus dari hati? Karena hati adalah rajanya anggota badan. Apabila hati merasa senang maka anggota tubuh yang lain akan mengikut dan begitu pun sebaliknya. Seperti misalnya seseorang yang sopan santun itu enak dipandang, tapi kalau tak berasal dari hati itu bukan akhlak tapi pencitraan. Begitu pun dengan ikhlas, harus dari hati karena dikatakan dalam Hadits Qudsi bahwa Allah ﷻ melihat seseorang dari hati dan perbuatannya. Seorang pendakwah milenal yang terkenal dengan sebutan Habib Ja’far pernah menulis sebuah buku yang berjudul “TUHAN ADA DI HATIMU”. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa segala ibadah harus ikhlas dan berasal dari hati, karena yang mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adalah HATI.
Komentar
Posting Komentar