Pemimpin ber-Khalifah
Di alam rahim semua manusia pernah bersaksi kepada Allah bahwa Allah adalah Tuhan sebagaimana dalam surah Al-A'rof (7):172. Maka disinilah tanggung jawab seorang manusia bagaimana caranya bisa mempertahankan janji itu hingga akhir hayatnya. Salah satu cara untuk mempertahankan janji itu adalah dengan memimpin diri sendiri sebaik mungkin. Karena di yaumul akhir kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita selama masih di dunia sebagaimana dalam surah Al-Muddatstsir (74):38.
Islam adalah agama yang sempurna. Islam hadir sebagai penyempurna agama sebelumnya yang dilencengkan oleh manusia itu sendiri. Islam mengajarkan beberapa cara untuk menjadi pemimpin yang baik untuk kaumnya atau paling tidak terhadap dirinya sendiri. Hal inilah yang membuat kita untuk tidak menjadi seorang pemimpin yang semaunya saja karena pemimpin akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kaumnya yang baik terlebih yang buruk.
Hal pertama kali yang diperhatikan menjadi pemimpin adalah akhlak karena akhlak adalah simpul keislaman seseorang. Orang yang berakhlak pasti tau bagaimana sifat dan kebiasaan nabi. Sehingga ia berusaha untuk menjadikan dirinya berakhlak seperti nabi yang memeliki akhlak seperti Allah. Dan orang yang berakhlak pasti penuh dengan cinta dan membahagiakan sesama ciptaan Tuhan. Ada perumpamaan bahwa, "Apabila seribu ekor serigala yang dipimpin oleh seekor domba, maka serigala itu akan bersifat seperti domba. Apabila seribu ekor domba yang dipimpin oleh seekor serigala, maka domba itu akan bersifat seperti serigala". Begitu besar pengaruh akhlak pemimpin kepada kaumnya dan jika kita terlepas dari sisi spiritual, dari sisi duniawi misalnya ada pemimpin suatu kaum berakhlak buruk maka akan mendekatkan umatnya menuju kehancuran.
Kemudian nabi sebagai seorang pemimpin selalu melihat kebaikan di tengah keburukan. Nabi selalu mencari setitik cahaya di kumpulan kegelapan. Nabi selalu fokus mencari kelebihan di tengah kekurangan. Pernah suatu ketika nabi berdakwah bersama sahabat di Thoif, nabi diolok-olok, dilempari dan diejek penduduk setempat. Kemudian malaikat Jibril menawarkan kepada nabi dua gunung yang mengapit negeri Thoif untuk dilemparkan diatas mereka. Akan tetapi nabi sebagai seorang pemimpin yang bisa melihat kebaikan ditengah keburukan justru menolak dan malah mendoakan kebaikan kepada penduduk Thoif. Bilal bin Rabbah, budak berkulit hitam yang memeliki suara merdu kemudian diangkat menjadi muadzin oleh nabi. Itulah nabi, pemimpin yang bisa melihat kelebihan di tengah kekurangan.
Hal pertama kali yang dilakukan nabi ketika hijrah di Madinah adalah mepersatukan kaum Muhajirin dengan kaum Ansar yang merupakan penduduk asli Madinah. Begitu pula ketika nabi mempersatukan umat muslim dengan non-muslim dengan cara membuat Piagam Madinah yang memandang sama semua orang apapun agamanya. Disisi lain juga Allah memerintahkan kita untuk merdeka, tapi bagaimana caranya suatu kaum bisa merdeka sedangkan mereka masih dijajah oleh egonya sendiri? Oleh karena itu Sayyidina Ali pernah berkata, "Jika dia bukan saudaramu dalam agama maka dia saudaramu dalam kemanusiaan”.
Zaman telah banyak berubah, salah satunya seorang perempuan bisa jadi pemimpin suatu kaum dengan alasan punya ilmu pengetahuan yang membuatnya layak menjadi seorang pemimpin. Akan tetapi di dalam surah An-Nisa (4):34 bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita. Ketika masih di As'adiyah Sengkang, saya diajar bahwa terlepas dari ayat ini misal dalam rumah tangga jika istri memiliki ilmu yang lebih tinggi maka dia berhak untuk memimpin tapi dengan batasan sebagai seorang istri patuh dan taat kepada suaminya. Seperti halnya ketika para sahabat hendak membukukan Al-Qur’an, mereka memilih Zaid bin Tsabit yang merupakan dari kalangan orang biasa sebagai ketua tim penyusun Al-Qur’an. Padahal saat itu yang menjadi khalifah adalah Abu Bakar As-Siddiq, begitu banyak sahabat yang dekat dengan nabi tetapi memilih Zaid karena lebih paham perkara ini.
Pemimpin identik dengan perintah. Tapi berbeda dengan nabi, beliau adalah pemimpin yang tipikal mengajak bukan hanya memerintah. Memerintah artinya memberi contoh sedangkan mengajak artinya menjadi contoh. Banyak dari kaum non-muslim yang mengucapkan dua kalimat syahadat karena ajakan nabi, tapi dengan cara yang berbeda. Pernah suatu ketika ada seseorang yang selalu mencelakai nabi setiap harinya. Pada suatu ketika orang itu jatuh sakit dan tidak ada satupun teman dan keluarganya yang menjenguknya, kecuali nabi seorang. Padahal jika nabi mau menggunakan kekuasaannya, bisa saja orang itu di hukum oleh para sahabat. Kemudian karena kagum dengan kebaikan nabi sebagai seorang pemimpin umat Islam maka orang tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan nabi. Pernah juga suatu ketika cicit nabi bernama Baqir didatangi oleh seseorang dan berkata, "Kamu adalah baqar (sapi)" Baqir menjawab, "Bukan namaku adalah Baqir". Orang itu melanjutkan, "Kamu adalah putra dari wanita hitam dan nista" Baqir menjawab, "Apabila ucapanmu benar, semoga Allah mengampuni ibuku, apabila ucapanmu salah, semoga Allah mengampunimu". Kemudian orang itu menangis dan meminta maaf. Menjadi contoh tanpa harus mencemooh.
Keindahan adalah aspek yang penting bagi seorang pemimpin dalam menyampaikan kebenaran dan menularkan kebaikan. Misalnya kita mau memberi kado hadiah ulang tahun, bukan hanya isinya yang harus indah tapi bungkusnya pun harus indah, juga memberikan harus dengan cara yang indah. Bagi seorang pemimpin, bisa saja kaumnya enggan untuk mendengarkan jika menyampaikan dengan cara yang tak baik. Nabi saja menyampaikan dengan cara yang baik masih ada yang menolak, apalagi dengan cara tak baik. Perlu diingat juga bahwa kebenaran yang disampaikan dengan baik tapi tak indah, bisa saja ditolak. Pemimpin yang baik harus memeliki pribadi yang penuh dengan kebijaksanaan, dalam artian bisa menyampaikan kebenaran dengan baik dan dibungkus dengan keindahan. Sebagai seorang pemimpin, benar saja tak cukup. "Kebenaran harus bersayap Kebaikan dan Keindahan. Maka, jadilah makhluk Kebijaksanaan", ucap Habib Ja'far.
Komentar
Posting Komentar